Jumat, 22 Mei 2009

detik.com: Tak Ada "Black Box" di Hercules

Jakarta - Black box selalu menjadi benda yang diburu jika ada pesawat yang mengalami kecelakaan. Tapi ada perkecualian jika yang celaka adalah pesawat militer macam Hercules yang jatuh di Magetan.

"Untuk pesawat militer perlu ditegaskan tidak ada black box," kata Kapuspen TNI Marsekal Madya Sagom Tamboen di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis (22/5/2009).

Sagom menjelaskan, black box berisi informasi penting data selama penerbangan termasuk percakapan pilot dengan awak pesawat maupun pangkalan. Hal ini menjadi berbahaya jika black box jatuh ke tangan musuh.

"Kalau misalnya black box ada, contohnya kita perang dan pesawat kita ditembak oleh musuh. Musuh akan dengan mudah mencari black box dan mengetahui isi black box itu," terangnya.

Untuk mengetahui penyebab jatuhnya Hercules di Magetan, Sagom mengatakan TNI sudah membentuk tim panitia penyelidikan kecelakaan pesawat terbang (PPKPT) sejak tragedi itu terjadi. Mereka akan mengumpulkan bukti dan fakta dari berbagai sumber meskipun belum ada perkembangannya.

"Kita kumpulkan fakta-fakta di TKP mulai dari riwayat hidup pesawat, laporan dari orang-orang yang merawat memelihara dan mengoperasikan. Dan keterangan dari penduduk setempat," jelasnya. (gah/nwk)

http://www.detiknews.com/read/2009/05/21/125511/1135153/10/tak-ada-black-box-di-hercules

Rabu, 29 April 2009

Popeye: Misi Hiburan dan Kepentingan Pemerintah AS


Tentunya tidak asing mendengar kata: “Popeye is the Sailorman”. Ya, serial film kartun yang sering diputar di beberapa stasiun televisi. Popeye digambarkan sebagai seorang pelaut Amerika (US Navy) yang memiliki kegemaran makan sekaleng bayam (spinach) untuk membuat tubuhnya jauh lebih kuat dalam setiap aksinya. Tapi tahukah Anda, ternyata ada kepentingan Pemerintah Amerika yang diselipkan dalam pembuatan tokoh Popeye tersebut?

Adalah Elzie Crisler Segar yang menciptakan tokoh Popeye di tahun 1929, dimana pada masa itu baru sebatas komik strip di Harian King Features. Di tahun 1933, Popeye mulai dibuat serialnya dalam bentuk film/ motion pictures dan makin populer hingga tahun 1957.

Masa-masa kepopuleran Popeye adalah masa-masa Amerika mengalami depresi , sekaligus perang dunia. Pengetatan ekonomi berlangsung di mana-mana. Ketika Perang Dunia II berlangsung, sumberdaya termasuk sumber pangan banyak diarahkan untuk keperluan perang. Logikanya, untuk membentuk pasukan tempur yang kuat diperlukan personel-personel tentara yang selalu dalam kondisi fit. Tentu saja kondisi tersebut mengharusnya adanya asupan gizi yang cukup dan seimbang, maka daging, telur, ikan, dan sebagainya dibawa ke medan peperangan untuk dukungan logistik pasukan tempur. Sebaliknya rakyat di dalam negeri hanya mendapatkan “sisa”-nya, diantaranya “bayam”.

Serial Popeye membantu ‘membujuk’ rakyat Amerika agar mau ‘berkorban’ demi ‘kepentingan negara’. Popeye menjadi semacam alat propaganda pemerintah AS pada jamannya, agar rakyat tidak mengomel karena kekurangan makanan (berprotein). Tidak apa-apa makan bayam terus-terusan. Toh Popeye bisa jadi superhero karena makan bayam.
Mengapa bayam yang dipilih? Pertama, bayam mudah tumbuh di mana-mana, dan bisa dipanen dengan cepat. Kedua, penelitian Dr. E Von Wolf di tahun 1870 yang menyimpulkan bahwa bayam memiliki kandungan zat besi 10 kali lebih tinggi dibanding sayuran lainnya. Belakangan, di tahun 1937, hasil penelitian tersebut dikoreksi dimana kandungan zat besi bayam sama saja dengan sayur lainnya! Akan tetapi, sejak kemunculan kartun Popeye tahun 1929, masyarakat terlanjur telah menyambut lahirnya legenda kekuatan otot bayam.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Selasa, 28 April 2009

Permen = Alat Transaksi “Sah”?

Tentu sudah banyak yang tahu apa itu permen. Suatu makanan yang tidak asing bagi anak-anak sampai orang dewasa karena rasanya yang manis dan mulai banyak variasinya baik bentuk maupun rasanya. Tapi dibalik bentuk mungilnya itu, ternyata permen tidak hanya menjadi pemanis dan penggoyang lidah saja akan tetapi juga dapat digunakan sebagai alat transaksi yang “sah”. Tahu maksudnya khan? Lihat saja, di toko-toko dari skala kecil sampai gedhe, di meja petugas kasir selalu disediakan setoples permen yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai barang dagangan karena bisa dijual, juga sebagai alat transaksi belanja (meski hanya sebatas digunakan sebagai pengganti pengembalian recehan saja). Nilai nominal permen pun beragam tergantung merk, terendah senilai Rp. 25,- kalo tertingginya kayaknya Rp. 100,-. Yang lebih menggelikan lagi saat transaksi di apotek, saat itu beli obat sakit gigi P**s**n sebanyak empat tablet, saya bayar dapat kembalian permen dua buah (dalam hati saya bilang, “lagi sakit gigi koq malah dikasih permen, dua lagi, ini namanya beli obat dikasih racunnya juga”). Kalo dihitung-hitung, misalnya bertransaksi sama di apotek tersebut, kalo dikumpulin bisa dapat permen seplastik tuh. Muncul ide nakal dikit, kalo nanti beli obat di apotek itu lagi saya bayar pake permen aja ahh, hahahaha...... (apa mau???).

Model transaksi manual uang fisik memang kelemahannya seperti itu, apalagi kalo nilai nominal barang semakin naik. Jika saat transaksi dilakukan, ada kelebihan pembayaran otomatis akan ada pengembalian pembayaran sejumlah selisih uang yang dibayarkan dengan harga barang. Kalo uang pengembalian itu memiliki 2 atau 3 digit angka nol di belakang, tidak akan jadi masalah karena masih bisa diusahakan mencari nilai uang tersebut. Masalahnya akan terjadi kali tidak ada angka nol pada digit belakangnya, misalnya Rp. 1.415,-. Solusi untuk mengatasi hal tersebut ada pada kebijakan pengelola market, paling banyak dibulatkan ke atas menjadi Rp. 1.450,-, meski ada juga yang membulatkan ke bawah menjadi Rp. 1.400,-. Lain halnya jika transaksi dilakukan secara elektronik, maka besarnya pembayaran bisa disesuaikan dengan harga barang hingga nilai dibelakang koma. Masalahnya tidak semua transaksi di toko bisa dilakukan dengan elektronik, dan kadang toko yang sudah menerapkan transaksi elektronik itu pun belum tentu sesuai dengan kartu yang dimiliki konsumen karena adanya beda layanan penyedia kartu (VISA/MASTER Card). Yang perlu diingat setiap transaksi elektronik memiliki beban tambahan tergantung penyedia layanannya, misalnya adanya iuran tahunan, beban bunga bulanan, dan biaya administrasi bulanan.

Sekarang, mau pilih permen atau kartu transaksi elektronik. Tergantung kebutuhannya donk, kalau sering belanja di toko dan supermarket dalam jumlah relatif besar boleh pake kartu transaksi elektronik, soalnya kata iklan makin sering gesek poinnya makin bertambah. Tapi sebaliknya kalau frekuensi belanjanya jarang2, pake permen saja, maksudnya bayarnya pake uang fisik trus kembaliannya permen ga apa2 lah.

Selasa, 24 Maret 2009

Koneksi Jaringan Shared Printer antara XP dan Vista...

Anda menggunakan Vista? Tempat kerja Anda memiliki koneksi jaringan lokal/LAN? Pernahkah Anda menemukan masalah ketika ingin menghubungkan komputer Vista Anda ke printer di komputer lain yang menggunakan OS XP? Atau notebook Vista Anda tidak memiliki port untuk printer lama sementara komputer di kantor Anda yang menggunakan XP sudah terhubung langsung ke printer? Apakah pesan seperti tampilan di awal tulisan ini muncul dalam komputer/notebook Vista Anda?
Nah, tulisan berikut ini akan memberikan alternatif solusinya, bagaimana menghubungkan komputer/ notebook Vista Anda ke printer milik komputer lain yang menggunakan OS XP....


  1. Pastikan printer dan komputer tetangga yang akan dikoneksikan via LAN sudah ON dan Log-in.
  2. Di komputer/ notebook Vista Anda, klik 'logo Vista di pojok kiri bawah', kemudian klik 'Network', dan temukan 'nama komputer dan nama printer' yang ingin Anda koneksikan. Ingat-ingat, atau catat nama komputer, nama printer dan tipe printer di kertas atau notepad.
    Tips : klik kanan pada icon printer network dan klik 'properties', maka akan muncul pop-up yang memuat nama printer, nama di jaringan, port, dll.

  3. Buka 'Control Panel' dan klik pada icon 'Printer'
  4. Klik kiri pada menu bar 'Add a printer' atau klik kanan pada area kosong dan pilih 'add printer', maka akan muncul pop-up menu.

  5. Pilih opsi 'Add A Local Printer'

  6. Pilih 'Create New Port'


  7. Klik 'Next', maka akan muncul pop-up menu berupa kotak kecil sebaris dan masukkan nama komputer dan printer dengan format:
    '\\NamaKomputer\NamaPrinter' kemudian klik 'OK'


  8. Setelah itu, Anda akan dibawa pada merk-merk printer di kotak kiri dan model/tipe-tipe printer di kotak kanan. Pilihlah sesuai dengan printer yang akan dikoneksikan.

  9. Klik 'Next' dan berikan identitas printer di sistem komputer Anda (info: identitas boleh bebas diberi nama apapun)

  10. Selanjutnya Vista akan memasang driver pada sistemnya dan koneksi jaringan ke printer telah SELESAI/FINISH, dan printer siap digunakan dari komputer/ notebook Vista Anda.


Semoga berguna....

Jumat, 06 Maret 2009

E = M.C², Hukum Kepemimpinan ber-Orientasi Hasil.

Rakyat memperhatikan dan menilai apakah kepemimpinan Anda memberikan dampak kebaikan atau sebaliknya. Apakah Anda kemudian dicap sebagai pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya, atau pemimpin yang mampu menyejahterakan dirinya sendiri, atau pemimpin yang mampu menganalisa bagaimana hasil kepemimpinannya, atau pemimpin yang mampu menghadapi kebingungan memilih antara tipe kepemimpinan pertama, kedua, atau ketiga.

Kepemimpinan tanpa perubahan laksana sayur tanpa garam. Tetapi perubahan yang konsisten dilakukan adalah garam menuju kehidupan yang lebih baik. Kepemimpinan yang konsisten dengan arah perubahan demi kemaslahatan masyarakat.

Dalam melaksanakan perubahan terdapat tiga kaidah yang selalu melekat dalam proses perubahan dan harus selalu dicermati. Pertama adalah law of native. Perubahan yang dilakukan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tugas para pemimpin adalah agar segenap impian dan angan-angan yang dikemas dalam visi dapat meresap ke dalam sanubari masyarakat dan membuahkan komitmen. Komitmen ini akan tumbuh menjadi kemauan yang akan menggerakkan masyarakat.

Kaidah kedua adalah law of chaos. Sesuatu yang harus disadari bahwa dalam setiap perubahan pasti timbul kekacauan. Kita harus menerima fakta ini dan memiliki strategi yang tepat untuk mengelola kondisi tersebut. Keandalan dalam mengatasi kenyataan ini merupakan batu ujian untuk menguji kemampuan seorang pemimpin. Pada tahapan ini pula akan tersemai bibit-bibit kelompok proponen, indifferent dan oponen. Proponen adalah kelompok orang-orang yang mendukung suatu ide, misalnya perubahan, oponen adalah kaum penentang dan kelompok indifferent adalah kaum yang tidak peduli dengan perubahan.

Adalah kewajiban seorang pemimpin untuk dapat menarik oponen dan indifferent agar berubah menjadi proponen, tetapi para pemimpin jangan sampai terjebak oleh usaha persuasi berkepanjangan yang dapat menghambat implementasi perubahan. Pemimpin harus menganalisa secara cepat dan harus pula berani mengambil keputusan untuk mengikis habis para oponen jika persuasi tidak dapat memberi kontribusi apapun dalam usaha penyatuan gerak organisasi.

Berikutnya adalah law of eden. Pemimpin tentunya juga harus menyampaikan hal-hal atau manfaat apa yang akan diperoleh pengikutnya jika bergerak dan bertindak mengikuti visi, arah yang diyakini sebagai yang terbaik bagi masyarakatnya. Sebagai seorang pemimpin, ia harus “menjanjikan” namun sekaligus juga memberikan hasil yang dijanjikan. Disamping tentunya dibutuhkan keteladanan positif dari seorang pemimpin yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi disertai sikap antusiasme yang tinggi dengan langkah yang konsisten dan berkesinambungan. Jika hal-hal semacam itu tidak dilaksanakan dalam kelangsungan proses maka kepercayaan terhadap terwujudnya cita-cita dan terhadap pribadi pemimpin pun akan meluntur.

Merupakan tugas seorang pemimpin untuk menyampaikan visinya yang harus dikomunikasikan serta dikoordinasikan secara jelas dan gamblang kemana masyarakat akan dibawa. Sekedar dikomunikasikan saja tidaklah cukup, tetapi harus diterima dan dipahami dengan jelas. Apalagi membiarkan menebak, tentu suatu kekeliruan karena harus disampaikan secara “crystal clear” dan jika perlu secara “cascading”.
Menjadi pemimpin berarti meng-communication-kan visi dan misi untuk direalisasikan secara consisten melalui langkah-langkah yang terangkum dari rumusan formula E=M.C² atau Energy = Momentum (Consistency + Coordination).

(LeadershipPark, Inspiration for leader, edisi XV/Januari-Februari 2008)