Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 November 2009

Alia Sabur, Profesor Wanita Termuda di Dunia Saat Ini


Alia Sabur, gadis kelahiran 22 Februari 1989 asal Northport, New York, AS ini benar-benar mengagumkan sampai-sampai Guinness Book of World Record tidak ketinggalan mencatatkan nama Alia sebagai Profesor Termuda di dunia pada 19 Februari 2008 lalu bertepatan pda saat Alia dikukuhkan sebagai profesor bidang pengembangan teknologi fusi oleh Universitas Konkuk di Seoul, Korea Selatan dan mulai mengajar di universitas tersebut pada Juni 2008. Jadi saat meraih gelar profesor itu, usianya hampir menginjak 19 tahun.

Alia mulai belajar bicara dan membaca saat usia 8 bulan. Usia 5 tahun, Alia menyelesaikan pendidikan SD. Masuk kuliah pada usia 10 tahun, kemudian menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya di usia 14 tahun di Universitas Negeri di Stony Brook, New York dan berhasil meraih predikat summa cum laude. Pendidikan Alia berlanjut ke Universitas Drexel dan meraih gelar M.S dan PHD dalam sains dan engineering. Tahun 2007, Alia pindah sementara ke Southern University di New Orleans setelah serangan badai Katrina.

"Saya benar-benar senang mengajar," kata Alia seperti dilansir MSNBC, Sabtu (26/4/2008). "Ini hal di mana Anda bisa membuat perberdaan. Ini bukan cuma apa yang bisa Anda lakukan, tapi Anda bisa membuat banyak orang menjadi berbeda," imbuh wanita muda itu.

Dikatakan Alia, yang ingin dilakukannya hanyalah membagi semua yang telah dipelajarinya. "Saya merasa saya bisa membantu banyak orang," tuturnya.

Selain prestasi akademiknya yang mengagumkan, Alia juga merupakan pemain musik dan pemegang sabuk hitam olahraga bela diri Tae Kwon Do (sabuk hitam tersebut diraihnya saat usianya baru 9 tahun). Wow!

dilansir dari:
aliasabur.com

detik.com

Jumat, 06 Maret 2009

E = M.C², Hukum Kepemimpinan ber-Orientasi Hasil.

Rakyat memperhatikan dan menilai apakah kepemimpinan Anda memberikan dampak kebaikan atau sebaliknya. Apakah Anda kemudian dicap sebagai pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyatnya, atau pemimpin yang mampu menyejahterakan dirinya sendiri, atau pemimpin yang mampu menganalisa bagaimana hasil kepemimpinannya, atau pemimpin yang mampu menghadapi kebingungan memilih antara tipe kepemimpinan pertama, kedua, atau ketiga.

Kepemimpinan tanpa perubahan laksana sayur tanpa garam. Tetapi perubahan yang konsisten dilakukan adalah garam menuju kehidupan yang lebih baik. Kepemimpinan yang konsisten dengan arah perubahan demi kemaslahatan masyarakat.

Dalam melaksanakan perubahan terdapat tiga kaidah yang selalu melekat dalam proses perubahan dan harus selalu dicermati. Pertama adalah law of native. Perubahan yang dilakukan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tugas para pemimpin adalah agar segenap impian dan angan-angan yang dikemas dalam visi dapat meresap ke dalam sanubari masyarakat dan membuahkan komitmen. Komitmen ini akan tumbuh menjadi kemauan yang akan menggerakkan masyarakat.

Kaidah kedua adalah law of chaos. Sesuatu yang harus disadari bahwa dalam setiap perubahan pasti timbul kekacauan. Kita harus menerima fakta ini dan memiliki strategi yang tepat untuk mengelola kondisi tersebut. Keandalan dalam mengatasi kenyataan ini merupakan batu ujian untuk menguji kemampuan seorang pemimpin. Pada tahapan ini pula akan tersemai bibit-bibit kelompok proponen, indifferent dan oponen. Proponen adalah kelompok orang-orang yang mendukung suatu ide, misalnya perubahan, oponen adalah kaum penentang dan kelompok indifferent adalah kaum yang tidak peduli dengan perubahan.

Adalah kewajiban seorang pemimpin untuk dapat menarik oponen dan indifferent agar berubah menjadi proponen, tetapi para pemimpin jangan sampai terjebak oleh usaha persuasi berkepanjangan yang dapat menghambat implementasi perubahan. Pemimpin harus menganalisa secara cepat dan harus pula berani mengambil keputusan untuk mengikis habis para oponen jika persuasi tidak dapat memberi kontribusi apapun dalam usaha penyatuan gerak organisasi.

Berikutnya adalah law of eden. Pemimpin tentunya juga harus menyampaikan hal-hal atau manfaat apa yang akan diperoleh pengikutnya jika bergerak dan bertindak mengikuti visi, arah yang diyakini sebagai yang terbaik bagi masyarakatnya. Sebagai seorang pemimpin, ia harus “menjanjikan” namun sekaligus juga memberikan hasil yang dijanjikan. Disamping tentunya dibutuhkan keteladanan positif dari seorang pemimpin yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi disertai sikap antusiasme yang tinggi dengan langkah yang konsisten dan berkesinambungan. Jika hal-hal semacam itu tidak dilaksanakan dalam kelangsungan proses maka kepercayaan terhadap terwujudnya cita-cita dan terhadap pribadi pemimpin pun akan meluntur.

Merupakan tugas seorang pemimpin untuk menyampaikan visinya yang harus dikomunikasikan serta dikoordinasikan secara jelas dan gamblang kemana masyarakat akan dibawa. Sekedar dikomunikasikan saja tidaklah cukup, tetapi harus diterima dan dipahami dengan jelas. Apalagi membiarkan menebak, tentu suatu kekeliruan karena harus disampaikan secara “crystal clear” dan jika perlu secara “cascading”.
Menjadi pemimpin berarti meng-communication-kan visi dan misi untuk direalisasikan secara consisten melalui langkah-langkah yang terangkum dari rumusan formula E=M.C² atau Energy = Momentum (Consistency + Coordination).

(LeadershipPark, Inspiration for leader, edisi XV/Januari-Februari 2008)

E = M.C²; Kepemimpinan Efektif dan Implementasi Perubahan

Einstein merumuskan hukum kekekalan energi dengan E=M.C². Setiap energi adalah hasil dari massa (berat) kali kecepatan cahaya pangkat dua. Rumus ini telah mendorong terwujudnya bom atom yang meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Dan aplikasi dari pemahaman energi ini telah membuat dunia bergetar penuh kekhawatiran bahwa lebih dari sepertiga negara-negara telah memiliki bom atom dengan kekuatan lebih dari lima ratus kali kekuatan bom atom yang meledakkan seluruh kota Hiroshima.

Sebegitu burukkah dampak dari hukum kekekalan energi yang dirumuskan Einstein ini? Ternyata tidak. Itu sangat tergantung pada pemanfaatannya. Rumusan ini bisa digunakan untuk memastikan pembuatan reaktor nuklir yang aman dan bisa dikendalikan. Rumusan ini telah membantu menciptakan listrik dari sumber energi nuklir yang bisa membuat kapal selam tetap berada di bawah permukaan air seumur hidup, dan bisa dimanfaatkan untuk menciptakan energi bagi stasiun angkasa luar.

Rumusan sederhana namun cerdas ini ternyata tidak hanya berlaku bagi para Leader dimana pun di muka bumi ini. Terus bagaimana? Bahwa setiap leader membutuhkan energi untuk menggerakkan dirinya terus-menerus, memimpin orang-orang mencapai tujuan bersama. Energi yang dibutuhkan tidak sekedar energi dari dirinya sendiri, namun energi yang bisa membangkitkan orang lain untuk mengikuti sumber energi dari diri si pemimpin yang terpancar. Energi yang menginspirasi orang lain, yang memotivasi dan memberikan suntikan semangat pada seluruh pemangku kepentingan.

Kepemimpinan membutuhkan formula agar visi kepemimpinan yang dibawa bisa menjadi realitas bagi orang-orang yang dipimpinnya. Belajar dari Einstein, energi seorang pemimpin bisa dipancarkan dan melipatgandakan kekuatannya. Tentu saja bahwa energi seorang pemimpin saja tidak akan cukup, karena itu dibutuhkan ramuan dari bahan lain. Bahan-bahan yang bisa diramu agar bisa melipatgandakan Energy adalah Momentum dikalikan dengan Communication dan Consistency. Ini bisa sama dengan E=M.C²-nya Einstein.

E=Energy yang menularkan dan membangkitkan gairah untuk terus menghasilkan karya terbaik demi tercapainya tujuan organisasi. Untuk menghasilkan energi optimal dibutuhkan bahan M=Momentum yang harus dikenali untuk dapat melakukan identifikasi potensi dan budaya secara tepat sehingga dapat dimaksimalkan untuk menyusun konsepsi strategis dan langkah-langkah taktisnya.

Kepemimpinan yang energik harus pintar-pintar menciptakan momentum dan memanfaatkan momentum itu untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada. Menggandakan potensi yang ada dan menyingkirkan kelemahan yang ada. Momentum ini adalah program yang searah dengan rencana jangka panjang dan memanfaatkan perubahan budaya organisasi.
Ramuan lain adalah C=Communication. Setiap langkah-langkah taktis yang disusun dari kebijakan strategik itu mustilah dikomunikasikan agar setiap komponen organisasi bisa berkontribusi dan menghasilkan output-output yang sesuai dengan target-targetnya. Komunikasi ini harus dihasilkan dengan prinsip-prinsip koordinasi yang baik agar setiap komponen organisasi bisa saling mengetahui tanggung jawab, wewenang, kemajuan dan hambatan yang dialaminya. Prinsip-prinsip koordinasi juga akan menyangkut pada sistematika evaluatif yang koheren bersama dengan proses berjalannya kemajuan program organisasi.

Ramuan yang tidak kalah pentingnya adalah C=Consistency. Perhatikan dan pelajari bagaimana konsistensi ini terus-menerus menjadi kendala besar. Kebijakan demi kebijakan digulirkan tetapi dilaksanakan dengan tidak konsisten. Orang-orang menjadi putus asa dan memberikan cap sebagai pimpinan plin-plan, pilih kasih atau tebang pilih! Konsistensi harus dijunjung tinggi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari etika kepemimpinan.

Bagaimana aplikasi E=M.C2 ini diorganisasi pemerintah daerah? Jelas bahwa pimpinan-pimpinan unit (jajaran dinasnya) bisa saling menduplikasi energi ini. Energi yang terpancarkan dengan bantuan momentum yang tepat, dikomunikasikan dengan baik agar bisa mendapatkan koordinasi dan dijalankan dengan konsisten akan menghasilkan semangat membangun yang luar biasa! Rakyat Anda akan lebih termotivasi, terinspirasi dan berkontribusi dengan program pembangunan yang disuarakan dengan jelas.

Kepemimpinan perlu memacu program-program. Dan ini memerlukan energi yang tidak kenal lelah, karena seringkali terdapat ketidakjelasan hasil di masa-masa tertentu. Ketidakjelasan ini berakibat munculnya godaan-godaan untuk berubah arah. Implementasi program-program kepemimpinan dilaksanakan dengan menciptakan atau memanfaatkan momentum yang tepat sehingga menghasilkan perubahan yang secara riil bisa dilihat, dirasakan dan dinikmati oleh para stake holder.

Perubahan yang terjadi dalam waktu yang terlalu lama akan tidak mencapai hasil yang efektif karena kehilangan momentum. Anggota organisasi akan jengah dengan impian demi impian. Terlalu lama impian itu terwujud. Harus ada momentum-momentum positif dari hasil-hasil meskipun kecil tetapi riil.

Tantangan besar juga dihadapi selama masa perubahan, yaitu bagaimana mengelola perubahan dengan munculnya apatisme atau kegagapan berkontribusi. Jelas, bahwa masyarakat perlu melihat adanya perubahan. Di sinilah peran penting dari komunikasi dan sikap konsistensi para pimpinan.


(LeadershipPark, Inspiration for leader, edisi XV/Januari-Februari 2008)